Korban Binary Option Ramai di Telegram Ancam Bunuh Indra Kenz dkk, Pengamat: Karena Segelintir Masyarakat Tergiur Punya Uang Banyak Secara Kilat

Korban Binary Option Ramai di Telegram Ancam Bunuh Indra Kenz dkk, Pengamat: Karena Segelintir Masyarakat Tergiur Punya Uang Banyak Secara Kilat

Korban Binary Option Ramai di Telegram Ancam Bunuh Indra Kenz dkk, Pengamat: Karena Segelintir Masyarakat Tergiur Punya Uang Banyak Secara Kilat

Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

JAKARTA - Kasus dugaan penipuan Binary Option belakangan ramai diperbincangkan karena korban telah melaporke polisi. Mereka berkumpul di grup Telegram.

Mereka saling berkoordinasi dan saling terprovokasi karena merasa tertipu dari beberapa influencer dan afiliator Indra Kenz, Doni Salmanan dan influencer lainnya. Malahan, korban justru melakukan aksi provokasi.

Dalam grup telegram tersebut, mereka mengancam membunuh para afiliator dan influencer dari Binary Option. Tidak sedikit juga sumpah serapah mengalir di dalam grup itu. Aksi mereka di grup Telegram tersebut sudah mereka mulai semenjak akhir tahun 2022.

Seperti yang kita ketahui, korban sudah melapor ke Polda Metro Jaya dan saat ini kasus diserahkan ke Bareskrim Polri. Sudah ada 8 korban yang diperiksa. Hingga akhir pekan ini, kasusnya masih dalam tahap penyelidikan.

Namun, para pengamat menilai bahwa kasus ini bukan hanya salah dari influencer atau afiliator semata dan pihak influencer tidak bisa disalahkan begitu saja. Terjadinya laporan dan dugaan kasus penipuan ini adalah dampak dari pengawasan awal pemerintah.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, saat ini regulasi di dalam negeri juga belum mengatur perihal influencer atau seseorang yang mempromosikan aplikasi trading ilegal. Sehingga, platform trading ilegal ini dapat dengan leluasa membayar atau menyewa influencer ini untuk mempromosikan produknya.

"Selain itu, aturan seseorang menyebarkan berita bohong ataupun platform yang terindikasi penipuan di internet belum kuat. Para penipu berani menyewa influencer untuk mengiklankan platform penipu itu," kata Nailul dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 12 Februari.

Kurangnya literasi keuangan digital

Banyaknya nasabah yang merasa tertipu dari kasus Binary Option ini disebabkan oleh kurangnya literasi digital dan literasi keuangan masyarakat. Kemudian, masyarakat juga tergiur keuntungan yang besar dengan cara yang relatif instan tanpa mempertimbangan risikonya. Hanya dengan menebak naik atau turunnya sebuah aset.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *