Waspada Serigala-Serigala Instagram

Waspada Serigala-Serigala Instagram

Bangkok, Thailand - JUN 18, 2018: social medial app iPhone mobile phone with blue screen background technology business smartphone digital communication facebook and internet editorial

Foto ilustrasi: Getty Images/Wiyada Arunwaikit

Pemberitaan media massa maupun media sosial sedang ramai seputar proses hukum beberapa crazy rich muda yang kerap pamer kekayaan di sosial media Instagram. Lebih dari sebuah kasus hukum yang harus dituntaskan, dongeng crazy rich millenials juga membuka sebuah catatan. Banyak milenial yang tidak menyadari bahwa kisah sukses influencer muda yang kelihatannya kaya ini sejatinya merupakan sebuah strategi. Di balik para influencer itu ada pihak yang mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan kesenjangan antara kehidupan impian dan kenyataan yang dilakoni generasi milenial.

Kehadiran Instagram bukan hanya membuka ruang eksistensi diri, yang bagi sebagian orang diterjemahkan dengan aktivitas bersosialisasi atau bagi sebagian lainnya dengan pamer kehidupan mewah. Kenyataannya, ruang ini menjadi ekosistem generasi milenial dan generasi Z di Indonesia. Hingga Februari lalu, NapoleonCat mencatat pengguna instagram mencapai 36.7% dari jumlah penduduk Indonesia, dan sepertiganya adalah anak muda usia 18-24 tahun.

Tak heran jika kehadiran influencer menjadi sebuah keniscayaan bagi pelaku indusri untuk memasarkan produknya. Sebab, begitu banyak etalase digital perusahaan yang bergentayangan di tengah belantara internet, hampir tidak dapat ditemukan oleh orang-orang yang tidak tahu mereka ada di sana apalagi mencarinya.


Sayangnya, influencer bukan hanya dimanfaatkan oleh pebisnis legal, melainkan juga pelaku pencucian uang. Mereka membesarkan tokoh-tokoh subkultur Instagram yang membawa pesona Jordan Belfort sang serigala dari film Wolf of Wall Street ke media sosial. Serigala Wall Street yang asli, Jordan Belfort, adalah seorang trader nakal yang dihukum karena menipu menjual saham murahan kepada investor naif. Film biopiknya yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio menjadi box-office pada 2013.


Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai peringatan, tapi bagi ribuan milenial dari latar belakang ekonomi sederhana kisah Belfort justru bisa jadi inspirasi bagaimana melarikan diri dari kehidupan serba pas-pasan.


Umpan yang disemai serigala Instagram adalah foto-foto mewah nan menawan yang mereka yakinkan hasil dari menggembangkan bisnis, melalui aplikasi trading yang ternyata judi online. Bagi generasi Y dan Z yang menjadi pengikut para crazy rich millenials seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan, para influencer itu merupakan potret pemuda heroik. Apalagi, keduanya bukanlah orang-orang yang kaya sejak lahir. Mereka seakan-akan jelmaan keberuntungan dan kegigihan sehingga banyak pengikutnya yang meyakini bahwa siapapun bisa sukses dengan menempuh jalan yang sama.


Tak heran, ketika Indra Kenz dan Doni Salmanan mengirimkan pesan berulang kali di akun Instagram mereka bahwa semua orang bisa meraih mimpi menjadi kaya melalui online trading, para pengikutnya berbondong-bondong bergabung dengan aplikasi yang dipromosikan. Apalagi, konsepnya sederhana tanpa perlu teori dan rumus jelimet. Yakni, mendaftar dengan membayarkan setoran, lalu menebak apakah harga saham, mata uang, atau produk keuangan lainnya dalam kurun waktu tertentu akan naik atau turun dan seberapa banyak.

Bagi orang muda dengan pengetahuan terbatas tentang pasar keuangan dan rasa lapar untuk sukses, promosi demikian tentu amat gurih. Sayangnya, apa yang tidak diperlihatkan di balik umpan itu adalah bahwa setiap platform perdagangan yang didaftar membayar kepada orang-orang semacam Indra Kenz ataupun Doni Salmanan sebagai afiliator hingga 70% dari nilai kerugian yang diderita para pendaftar.

Jelas, afiliator itu tidak bertaruh pada produk keuangan predator tetapi caranya menghasilkan uang bebas risiko. Lain halnya para korban, terperangkap opsi biner yang merupakan produk perjudian tanpa kemenangan dengan penyamaran sebagai instrumen keuangan yang kompleks.


Umpan lain yang juga kerap menjadi perangkap pelaku pencucian uang di Instagram adalah iklan lowongan kerja. Milenial korban PHK di masa pandemi, staf junior yang membutuhkan tambahan uang, mahasiswa, atau bahkan pelajar SMA sangat mungkin tertarik untuk menjadi agen kripto di tengah tren cryptocurrency saat ini. Tanpa deskripsi pekerjaan yang jelas, mereka bisa bekerja dari rumah atau dari mana saja dan menerima upah yang cukup menggiurkan. Syaratnya pun mudah, cukup memberikan foto identitas, alamat, dan nomor rekening.


Tapi siapa sangka influencer yang memberikan pekerjaan itu di kemudian hari akan mengirimkan sejumlah besar uang ke rekening pengikutnya yang melamar. Lalu, pengikut itu diminta untuk mentransfer uang tersebut ke akun kripto baru. Dan, milenial yang berharap mendapat upah besar dari pekerjaan yang ringan pun tanpa sadar telah menjadi money mule, seseorang yang memungkinkan rekening banknya menjadi saluran pencucian uang.


Nasabah yang diketahui telah menggunakan rekening mereka untuk pencucian uang akan masuk daftar hitam sehingga mereka tidak lagi bisa membuka rekening bank atau mengajukan pinjaman. Menurut UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, mereka juga terancam hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar. Biaya yang harus dibayar mereka yang terlibat sebagai money mule bisa sangat menghancurkan. Sementara geng kriminal adalah sosok bayangan, seringnya berbasis di luar negeri dan tidak mudah diidentifikasi.


Hasil survei GBG berkolaborasi dengan The Asian Banker di lebih dari 300 institusi finansial di 6 negara wilayah Asia Pasifik, money mule adalah salah satu pola penipuan online yang paling berdampak signifikan kepada institusi finansial di Indonesia. Setidaknya, tahun lalu 68% fraud terjadi dari money mule.


Serigala Instagram lain juga mungkin saja memburu identitas pribadi para korbannya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, telah terjadi 5 juta kasus penyalahgunaan data dari pihak yang tidak bertanggung jawab di sektor finansial maupun non-finansial. Data pribadi yang dicuri bisa saja berupa nama, usia dan tempat-tanggal lahir, alamat, nama ibu kandung, sekolah, kampus, atau tempat bekerja, bahkan termasuk tim olahraga favorit dan sejumlah foto. Data-data tersebut bisa saja disalahgunakan untuk membuat identitas palsu pada akun sistem pembayaran digital.


Instagram, juga media sosial lainnya seperti Twitter dan Facebook, telah menjadi belantara paling liar bagi para pelaku pencucian uang. Bagi mereka, tidak ada yang lebih mudah dibandingkan dengan melakukan penipuan dan pencucian uang selain memanfaatkan sosial media semacam Instagran. Media baru tersebut telah memacu kejeniusan para kriminal dalam menciptakan produk baru yang melawan hukum. Mereka telah mengambil keuntungan dari area abu-abu antara apa yang mereka tahu tidak dapat mereka lakukan dan apa yang mereka yakini dapat mereka hindari.

Karenanya, penting bagi generasi Y dan Z untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait dengan pengelolaan keuangan dan penyebaran data pribadi. Termasuk jeli terhadap aspek legalitas platform ataupun instansi yang menawarkan investasi maupun lowongan pekerjaan. Logika mengenai rasio keuntungan dan risiko pun harus senantiasa dikedepankan untuk menghindari kerugian yang lebih besar di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *